Hari ini genap 3 tahun lebih aku bekerja di SMAN 5. Sebuah rencana hidup yang mungkin yang tidak pernah aku kira sebelumnya, bahwasanya aku akan kembali lagi ke sekolah yang dulu menjadi tempat aku menimba ilmu.
Tapi sekarang, disana selama 3 tahun ini aku mengais rezeki untuk kebutuhanku dan untuk menyenangkan orang tuaku. Sudah banyak suka duka yang aku alami selama menjadi seorang pendidik. Tidak gampang untuk bisa menyesuaikan dengan keadaan yang tadinya belum pernah dijalani. Guru adalah sebuah profesi yang begitu berperan bahkan bertanggung jawab besar bagi kecerdasan dan psikis seseorang (terutama anak didiknya).
Sempat dulu aku mengumpat profesi kakak perempuanku yang pada saat itu hingga sekarang menjadi guru SD disalah satu sekolah swasta di kota palembang ini. Begitu banyak rutinitas yang terkadang sangat terkekang oleh aturan-aturan sekolah yang membuat jenuh setiap mata yang melihat. Belum lagi tugas dan tanggung jawab yang bukan hanya sekedar mendidik, mengajar murid-muridnya, tapi juga ditambah pekerjaan rutinitas itupun dibawa sampai kerumah untuk bisa diselesaikan (salah satunya koreksi PR atau ujian harian siswa/i-nya).
Hmmm…menjenuhkan sekali melihat hal semacam itu dulu. Tak elak terlontar dari mulut ini, “…aku nggak akan mau jadi guru, CAPEK !!!”
Tapi nyatanya sekarang berbalik arah, seperti sebuah karma yang diberikan Allah padaku atas sumpahku yang mungkin dibenci oleh-Nya. Aku menjadi seorang guru dan aku mengabdikan diri disekolah itu serta membagi ilmuku untuk anak didikku. Sungguh suatu hal yang diluar dugaan dan alhamdulillah menjadi berkah dalam hidupku sampai detik ini.
Hari itu… 3 September 2007,
Saat aku membutuhkan sebuah kejelasan tentang masa depanku, saat aku ingin ada yang bisa membantu aku keluar dari masalah hidupku yang saat itu sebagai seorang pengangguran, terdengar dering telepon rumah yang sudah jarang sekali terdengar sejak terakhir kakakku menerima telepon dari beberapa perusahaan tempat ia melamar pekerjaan. Saat aku angkat gagang telepon dan mengucapkan salam kepada orang yang berada di seberang sana, terdengar suara yang begitu berat yang sebelumnya sudah pernah aku dengar.
Benar sekali, suara itu adalah suara Kepsek SMAN 5 yang memintaku datang keesokkan harinya sebagai jawaban dari lamaran yang aku ajukan 2 bulan sebelumnya. Hati yang bercampur senang sekaligus panik membuatku tersenyum dalam hati yang bahagia sekaligus miris. Satu sisi aku bahagia kelak mendapatkan pekerjaan tetap, namun di sisi yang lain aku begitu cemas mendapati kenyataan bahwa aku akan menjadi guru (sebuah profesi yang aku hindari…:(
Keesokkannya tak tanggung-tanggung sebuah tanggung jawab baru yang harus aku emban. Dimulai dari penguasaan serta pengelolaan barang-barang di lab. Komputer, ditambah hari pertama itu masuknya siswa/I kelas XII yang sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka ketika melihat sosok orang baru di lab itu. Sempat aku diberitahu bahwa aku punya partner, namun sayang pada saat itu dia tidak ada ditempat lantaran ditugaskan ke Surabaya menemani salah satu siswa untuk mengikuti Olimpiade TIK tingkat Nasional.
Walhasil, sendirianlah aku selama 1 minggu dengan tugas yang dia titipkan untuk diajaran dengan siswa/I sesuai dengan tingkatan mereka. Tak hanya itu, hari pertama pun aku sudah dipermalukan oleh salah satu siswa di sekolah itu. Hal yang sepele namun diluar dugaanku, aku tidak tau dan terjebak dalam keadaan itu. Satu yang ditangkap oleh anak didikku dihari pertama aku mengajar, yaitu aku adalah salah seorang yang terjepit dan mencoba hal baru yang sama sekali dia buta akan hal tersebut.
Yup, bagaimana tidak ?? hampir satu tahun dari aku wisuda, aku bekerja serabutan plus menjauh dengan yang namanya komputer serta pernak-pernik ilmu yang pernah aku pelajari di kampus Biru itu. Dan tiba saat, aku harus menggali kembali ilmu yang pernah aku dapat dan akan aku bagi kepada anak didikku, aku tidak bisa dan aku tampak kelihatan seperti orang bodoh. Wajar di awal aku mengajar aku harus terima kalau aku pantas dipermalukan seperti itu karena aku harus mengakui aku lupa akan semuanya dan butuh waktu tuk mengingatnya kembali bahkan harus lebih dari mereka yang aku ajari.
Sebuah tekad yang harus aku pupuk sedini mungkin agar aku tidak kalah dengan waktu. Sudah saatnya aku bangkit dari tidurku yang panjang, sudah waktunya aku menjalani rezeki yang dibukakan Allah untukku dan tidak boleh aku sia-siakan. Karena semua ini demi orangtuaku dan masa depanku.
Sejak hari pertama aku di SMAN 5 sampai hari ini, banyak hal yang aku dapatkan. Terutama dengan seorang partner yang sampai hari ini juga tetap menjadi partner walau kami sudah berjauhan. Mr. H adalah orang yang mengajarkan aku banyak hal tentang sekolah, mendidik, berbagi ilmu, peluang, serta ketangguhan untuk bertahan hidup. Mulanya aku begitu membenci orang ini, bahkan berulang kali aku mengumpat, mengapa Allah pertemukan aku dengan orang yang begitu menyebalkan ini.
Kebersamaan dan waktu yang berikan padaku untuk bisa mengenal karakteristiknya, membuatku tahu siapa orang yang menjadi rekan kerjaku ini. Apa memang seperti ini sifatnya, caranya, perilakunya bahkan ucapan kepada orang baru yang bodoh seperti aku ini ???
Yaahhh… tapi itulah dia. Tak akan aku menjadi seperti sekarang ini tanpa adanya bantuan dia. Sekalipun kadang airmata menghiasi masa-masa aku mendapat sebuah pelajaran baru darinya, tak membuatku surut untuk bisa melakukan yang lebih baik darinya. Sekalipun aku lambat mengerti dan belajar tapi aku terus mencoba tuk bisa seperti dia dan kelak bisa membantunya.
Selain itu kebersamaan dengan anak didik kami pun semakin erat terikat dan ada sebuah cerita di tiap masing-masing mereka yang kami didik. Kesan dan kenangan pun tak pernah akan terlupa dalam benak ini. Satu persatu pun mereka tinggalkan sekolah demi menempuh masa depan. Sungguh semakin hari aku ada disana diantara mereka, aku semakin sulit lepas dari mereka. Dan sepertinya aku bertahan dan merasa nyaman itu pun karena mereka (anak didikku). Adanya mereka memberi warna baru dihidupku. Sekalipun aku penya rencana untuk masa depanku, waktuku akan selalu ada untuk mereka dan selalu untuk mereka. Itupun yang dirasakan dia, partnerku selama lebih kurang 5 tahun menjadi seorang guru disana.
Saat masa sulit itu telah aku lalui dan aku merasa nyaman dengan keadaan yang ada selama di SMAN 5, aku kembali dihadapkan dengan keadaan yang semakin sulit. Bahkan disaat kami berjanji akan terus mengajar dan berbagi ilmu dengan anak didik kami, serta akan terus bertahan di sekolah itu demi mereka (siswa/I kami). Dia menyatakan mundur dan memberikan seluruh tanggung jawab itu kepadaku
Sebuah hal yang sangat-sangat diluar dugaanku. Kehilangan orang yang kita sayang, tak begitu menyakitkan dibandingkan kehilangan saudara yang begitu banyak memberikan pelajaran baru bagiku. Genap 5 tahun dia mengabdikan diri di sekolah itu, hari itu juga tanggal 5 maret 2010 dia meninggalkan aku dengan kebimbangan. Saat itu aku hanya bisa diam dan meneteskan airmata ketidakmampuan.
Apa yang harus aku lakukan tanpa seorang teman, saudara, guru, pembimbing yang bisa aku jadikan tempat bertanya?? Begitu mudah langkah itu membawa sosok yang begitu berjasa bagiku pergi dari sekolah itu. Tanpa mengerti betapa bimbang dan bingungnya aku saat itu. Tapi aku mengerti, hal itu dia lakukan tak lain dan tak bukan untuk menjadi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Sebuah pengalaman baru yang wajib ia tempuh untuk tempaan diri agar menjadi orang yang lebih kuat.
Dan disaat yang bersamaan itu juga aku harus bisa lebih bertahan dan lebih bermanfaat untuk semua. Kalau kemarin aku yang dibantu olehnya (Mr. H), kali ini aku harus bantu orang lain yang mungkin kelihatan bodoh pada awalnya seperti aku dulu. Berikan aku semangat ya Allah, berikan juga aku kesabaran yang lebih tuk hadapi tanggungjawab dan tempaan hidup yang semakin berat ini. Karena hidup adalah perjuangan. Jangan berhenti sampai ke titik yang paling tertinggi. Coba dan lakukan hal yang terbaik untuk semua, karena disitu akan ada hikmah dan amalan yan kelak akan kita petik.
Dan tepat di akhir tahun 2010, aku mendapatkan berkah yang teramat besar dariNya. Engkau telah menjawab pintaku selama ini ya Robb. Aku diterima sebagai CPNS di salah satu Departemen Negara dan itu adalah berkah yang tiada tara.
Sebuah perjuangan panjang pun harus aku diakhiri di sekolah tercintaku ini karena sebuah pilihan hidup adalah jalannya seperti ini. Berat memang meninggalkan semua, terutama mereka semangat hidupku selama menjadi guru, yaitu siswa/i-ku. Maafkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat dan semoga ilmu yang telah aku bagi untuk kalian menjadi ilmu yang bermanfaat di masa yang akan datang, Amin…
Tuk semua yang berjasa dalam hidupku, aku ucapkan terima kasih tuk kalian dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya seperti apa yang ia berikan padaku selama ini. Love u all…